Malam ini terasa sunyi. Anak-anak sudah terlelap. Suami sedang berada di luar kota. İngatanku beranjak pada masa lalu, saat aku pernah berada pada lingkaran relasi yang cukup toxic. Bahkan, bisa jadi aku pun termasuk orang toxic tersebut.
Melalui perenungan ini, aku ingin mencoba mendeskripsikan kondisi lingkungan toxic itu seperti apa agar kita bisa waspada dan mengambil langkah yang bijak, jika suatu saat tanpa disadari terjebak di dalamnya.
Pengertian Toxic
Menurut KBBİ, tokxic atau toksik adalah racun. Secara umum lingkungan toxic adalah kondisi dimana memberikan pengaruh tidak baik untuk diri kita sendiri, bagaikan racun jika menjalar dalam tubuh, maka kita akan kehilangan nyawa jika tidak ditolong dengan cepat dan tepat.
Berikut 5 ciri-ciri lingkungan yang termasuk toxic:
- Energi merasa terkuras jika bersama.
Normalnya jika kita bertemu dengan seseorang dan melakukan aktifitas bersama, lalu membicarakan suatu hal, maka kita akan mendapatkan insight yang menjadi inspirasi untuk lebih baik, lebih bahagia, lebih bersyukur dan sikap positif lainnya.
Namun, ada beberapa kasus ditemui, jika bertemu dengan orang atau lingkungan tersebuh, kita merasa tidak nyaman, tertekan, merasa dihakimi, dan segala perasaan negatif lainnya hingga merasa lelah secara mental. İtu adalah lingkungan yang toxic.
- Mudah Menghakimi
Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda. Menurut A hal ini adalah sepele dan mudah, tapi bisa jadi menurur B hal ini adalah hal yang penuh struggle dan sulit digapai. Hal ini dipicu oleh latar belakang dna pengalaman yang berbeda, sehingga dalam hubungan sosial sangat dibutuhkan rasa empati, bukan penghakiman yang memperlihatkan seolah-olah dirinya paling unggul dibanding lainnya. İtu adalah lingkungan toxic.
- Minim Apresiasi dan Penuh Tekanan
Hal yang sangat manusiawi jika tak akan pernah ada manusia sempurna dan selalu benar dalam melakukan semua hal. Dalam perjalanannya, pasti ditemukan sebuah cela dan kesalahan. Saat kita melakukan sebuah kebaikan atau prestasi, maka mereka tidak akan memberikan apresiasi atau penghargaan karena menurutnya, yang kita lakukan adalah sebuah keharusan dan sudah selayaknya kita lakukan hal tersebut. Tapi, jika kita sedikit saja melakukan sebuah kesalahan, maka kita akan ditekan agar kesalahan itu tidak akan pernah terjadi dan harus selalu bersikap sempurna, bahkan melebihi hal yang seharusnya. İtu adalah lingkungan yang toxic.
- Manipulatif
Kondisi orang-orang jika menghadapi sebuah masalah, mereka akan memutar balikkan fakta dan kondisi yang membuat kita tersudutkan dan memposisikan seolah-olah kita terus yang di posisi salah. Padahal, hal yang normalnya adalah sebuah relasi atau hubungan antar manusia tidak mungkin luput dari kesalahan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Tidak mungkin A selalu benar selamanya dan B selalu salah selamanya karena A dan B bukanlah malaikat dan syetan yang selalu jelas mana salah dan benar. Jika kamu berada di lingkung seperti ini, sadalah jika itu adalah lingkungan toxic.
- Tidak Menghargai Prinsip dan Batasan Orang Lain
Sulit mengerti batasan privadi dan kenyamanan orang lain yang berbeda-beda. Mereka selalu menetapkan standar privasi dan kenyamanan hanya dari sudut pandang dirinya saja. Sehingga jika berbeda sudut pandang, maka mereka akan langsung menghakimi seolah-olah prinsip dan batasan yang kita tentukan adalah sebuah kesalahan dan hal negatif. İtu adalah lingkungan toxic.
Renungkan saat ini, apakah lingkungan kamu sudah menjadi tempat aman dan nyaman untuk berpogres ke hal kebaikan tanpa perlu banyak drama? Tak lupa juga, pastikan diri kita tidak termasuk ke dalam ciri-ciri orang yang toxic.
